Duta Bangsa | Sekolah Pengembangan Kepribadian dan skill komunikasi

Home » News » Mien R Uno, Etika Harus Konsisten dan Konsekuen

Mien R Uno, Etika Harus Konsisten dan Konsekuen

Date : 21-05-2013 | Author : | Comment : No Comments

Apakah yang menyebabkan Mien Rachman Uno atau lebih dikenal sebagai Mien R Uno menyukai etika? ”Etika itu baik karena menata kehidupan secara teratur. There is order, there in life,” katanya. Ia memang bergerak di bidang pendidikan pada umumnya. Terutama pendidikan etika. ”Sejak kecil saya senang akan kerapian. Gorden-gorden di rumah saya rapikan, berlaku sopan santun tehadap yang lebih tua”
Namanya memang sering dikaitkan dengan masalah etika. Dalam hal ini harus dibedakan antara etiket dan etika. Etiket adalah tata cara (adat sopan santun, dan sebagainya) dalam masyarakat beradab dalam memelihara hubungan baik antara sesama manusianya). Sedangkan etika adalah ilmu tentang apa yabg baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral.
Lembaga Pendidikan Duta Bangsa tak bisa dilepaskan dari nama Mien Uno. Dialah yang mendirikan lembaga pendidikan ini (bersama Anita Chairul Tanjung), berkaitan dengan profesinya sebagai pendidik. Selain
sebagai Presiden Dirrektur LPDB, ia juga mengajarkan etika serta percaya diri serta empowering ourself.
Sejak muda ia menginginkan agar wanita Indonesia menjadi berarti bagi dirinya sendiri serta lingkungannya. Ia ingin berperan serta memberdayakan wanita Indonesia. Tidak hanya wanita, tetapi juga laki-laki. Hal ini sejalan dengan apa yang dicita-citakan oleh RA Kartini. Mien Uno mengagumi sosok wanita Jepara itu. Mien mengatakan, apa yang ditekuninya selama ini melanjutkan cita-cita dan Kartini.
Melalui Lembaga Pendidikan Duta Bangsa yang didirikannya, berjuang terus untuk mendukung cita-citanya. Dan sebenarnya apa yang dikehendaki itu telah lama terwujud. Jumlahnya sudah ribuan, baik wanita maupun pria, yang sudah mendapat pendidikan dari Mien Uno melalui Lembaga Pendidikan Duta Bangsa. Umumnya gadis, ibu muda, pegawai swasta maupun pemerintah, lelaki dan perempuan, berasal dari berbagai lapisan masyarakat.

Rintisan orangtuanya

Wanita yang kelihatan tetap awet muda, tegas, dan bersuara lantang ini, lahir di Indramayu, Jawa Barat, pada 23 Mei 1941. Ia anak dari pasangan Abdullah Rachman dan Siti Koersilah. Kedua orang tua berdinas sebagai guru atau pendidik di zaman Belanda. Sejak tamat SMP, Mien sudah berniat ingin bergerak di bidang pendidikan juga seperti kedua orangtuanya. (Saudara Mien, Arif Rahman, juga dikenal seorang pendidikan). Jiwanya tetap seperti keinginan semula, melanjutkan belajar ke Sekolah Pendidikan Guru (SGA) di Bogor.
Mien mengakui, memang sejak kecil ia dibiasakan untuk memilih sendiri apa yang disukainya oleh
orangtuanya. Justru opendiikan dini semacam itu membuatnya juga bebas memilih apa yang dikehendakinya.maka setamat SGA, Mien kuliah di IKIP Negeri Bandung (Universitas Pendidikan Indonesia) mengambil jurusan Administrasi Pendidikan. Mien Uno menyelesaikan kuliahnya tahun 1965. Namun semenjak mahasiswa, ia sudah bisa memperoleh uang sendiri, dengan memberikan pelajaran kepada anak-anak sekolah.
Setamat kuliah, ia mendapatkan pasangan hidupnya, seorang pria Gorontalo, Ir. Razif Halik Uno. Mereka
dikaruniai dua anak: Indra Cahya Ilato Uni, MSAE, MBA serta Sandiaga Salahuddin Uni, MBA. Mengingat pekerjaan suaminya di Riau, Mien Uno selama 10 tahun lamanya tinggal di Riau. Kembali ke Jakarta, Mien melanjutkan niatnya sebagai pendidik Namun keadaan itu tak menyurutkan langkahnya untuk panggilan mendidik. Maka ketika mereka kembali ke Jaarta, Mien kembali aktif di bidang pendidikan.
Mien pernah mengisi program Dunia Wanita di TVRI Jakarta, pengasuh program televisi Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia di TVRI, guru Kesadaran Bermode pada Sekolah Keterampilan Wanita Martha Tilaar, konsultan, PR, Sekjen Iwapi (IkatanWanita Pengusaha Indonesia), dan banyak lagi. Selain mengajar, ia juga memberikan ceramah dan mengajar etika di berbagai kesempatan.
Boleh dikatakan Mien sudah berumur, namun ia tetap bersemangat untuk mengajar. Selain Lembaga
Pendidikan Duta Bangsa yang diririkan pada tahun 2001, ia juga mendirikan Mien R Uno Foundation. Hingga
sekarang yayasan ini berjalan dan mencari calon penerima beasiswa utuk pendidikan S-1.
Kegiatan Mien di luar pengajar ialah menulis, antara lain di majalah Kartini dan di bebrapa media cetak
lainnya. Juga menulis buku seperti Cermin Diri I (1991) dan Cermin Diri II (1996).

Menulis buku dan kolumnis

Nama Mien Uno sebagai pendidik, juga sudah ditulis dalam bukunya berjudul Mien R. Uno, Menjadi Wanita Indonesia. Buku lainnya ialah Etiket Sukses Membawa Diri di Segala Kesempatan. Buku ini merupakan catatan perjalanan hidupnya. Di buku itulah Mien mencatat segala sesuatunya, bagaimana menerapkan etika secara konsisten dan konsekuen.
Berapa kali pun ditanya, Mien tetap konsekuen menyatakan dirinya sebagai pendidik. ”Masalah pendidikan tetap menjadi perhatian utama saya,” katanya. Jadi keinginan mengajar tak pernah surut oleh umur.”
Jadi, pendidikan yang saya jalani ini boleh ditakan sejalan dengan hobi. Namun ada hal lain yang menarik
secara sekunder, yakni urusan kepntingan penataan rumah, menata kebun, berorganisasi yang mungkin bukan hobi,” tambahnya.
Ditanyakan apa hobi terutama, ia mengatakan yang paling utama ialah mengajar, memperbaiki sifat-sifat yang kurang baik dalam hal beretika. “Hobi semacam ini sangat membahagiakan diri saya!” ujarnya. Mengapa kita harus beretika? ”Agar tercipta kehidupan yang tertata. Jangan semrawut!” tegasnya. Etika juga berlaku terhadap lingkungan, termasuk makhluk lain dan tetumbuhan.
Mien mengakui pada umumnya etika di Indonesia sama dengan etika di dunia internasional. Bahkan ia melihat ada kelebihan pada etika kita, yakni etika lokal serti adat-istiadat. Etika tidak hanya belaku pada wanita atau pria saja, tetapi juga berlaku buat seluruh lapisan masyarakat.
Sebagai pengajar dan tokoh masyarakat, ia selalu bertemu dengan banyak orang. Setiap ketemu orang lain, pada pandangan pertama yang ia perhatikan ialah orang yang memperhatikan kebersihan, rapih, sehat, serta berwawasan luas.“”Tetapi yang terutama ialah kesehatan jasmani dan rohaninya,” kata Mien.
Menghadapi orang yang baru dikenal, ia selalu berpandangan positif, dengan memperhatikan
perilakunya. Gerak-geriknya selalu menjadi perhatian utamanya. Mungkin inilah yang ia perhatikan, yakni
mengenai bagaimana beretika, interaksi antara manusia satu dengan manusia lainnya.Ia melihat bahwa penampilan seseorang berkaitan dengan latar belakang atau pendidikannya.
Mien senang dengan kemajuan wanita Indonesia. Menurut dia, wanita Indonesia memang semakin maju dan mampu menyesuaikan diri dengan kekinian “Boleh dikatakan kaum perempuan sangat progresif bahkan mampu melakukan pekerjaan kaum pria,” jelasnya.
Bagaimanakah pandangan Mien terhadap istri yang tunduk kepada suami atau sebaliknya? ”Baik-baik saja seorang istri tunduk kepada suami secara wajar. Melawan suami tentu ada alasannya dan dikomunikasikan dengan baik,” katanya kemudian.
Mien melihat wanita Indonesia mulai merambah ke dunia internasional ketika Bung Karno mengangkat Ny Supeni sebagai duta besar keliling. Di negeri kita wanita Indonesia sudah dapat disejajarkan dengan pria dalam batas tertentu. Ada presiden wanita, menteri wanita, mahaguru wanita, dan sebagainya.
Bagi mereka yang kurang etika, menjadi tanggung jawab kita untuk mengingatkannya. Lalu apakah yang dia harapkan bila kita sudah memiliki etika yang baik? “Saya harapkan manusia Indonesia dapat berdiri setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya.”

Sumber:  http://majalahkencan.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>